Tampilkan postingan dengan label Ilmu Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Unknown


      Saya adalah ibu muda yang memiliki profesi bidan, ketika memutuskan untuk memilih ASIX atau Kerja di Klinik, saya langsung memutuskan untuk fokus ASIX. berhubung saya baru menjadi ibu, rasa penasaran saya terhadap ASIX sangat besar, apalagi setelah membaca tentang banyaknya manfaat ASIX untuk kesehatan dan masa depan baby, waahh tambah semangat saya :-D Dibawah ini ada tulisan dari mba monic (konsultan ASIX) yang membuat saya makin yakin untuk melakukan ASIX, dan Alhamdulillah saya berhasil memberikan ASIX ^_^ walaupun saya harus resign dari tempat dines. Ada kepuasan tersendiri ketika saya berhasil melakukan ASIX ini. Insya Allah ini juga bisa menjadi bekal cerita saya kepada para pasien saya yang akan datang. :) 
SIlahkan dibaca tulisan dibawah ini:
       Sejak 2001 hingga Sekarang, Rekomendasi Pemberian #ASI eksklusif 6 bulan / waktu mulai MPASI (Makanan Pendamping ASI) saat bayi berusia 6 bulan / 180 hari = Belum BERUBAH
          Dalam sebulan terakhir ini saya membaca & ditanya beberapa Ibu menyusui yang menyatakan kebingungannya karena tenaga kesehatan yang menangani bayi-bayi mereka baik itu dokter anak maupun bidan menyarankan pemberian MPASI sejak usia 4 bulan, dan kata-nya rekomendasi IDAI sudah berubah (saya tidak ada niat untuk mendiskreditkan para tenaga kesehatan). Kemudian ada yang minta saya sumber2 asli yang menyatakan rekomendasi MPASI diberikan saat bayi berusia 6 bulan.
          Baiklah , silahkan simak kutipan2 ini, semua sumber kecuali dari web IDAI tidak diterjemahkan bahasa Inggrisnya karena tulisan ini benar-benar original filenya.

1. Rekomendasi WHO (World Health Organization)
          Duration of Exclusive Breastfeeding & Age of Introduction of Complementary Foods
A. Guideline: Practice exclusive breastfeeding from birth to 6 months of age, and introduce complementary foods at 6 months of age (180 days) while continuing to breastfeed.
B. Scientific rationale: In May, 2001 the 54th World Health Assembly urged Member States to promote exclusive breastfeeding for six months as a global public health recommendation (World Health Assembly, 2001). This recommendation followed a report by a WHO Expert Consultation on the Optimal Duration of Exclusive Breastfeeding (WHO, 2001), which considered the results of a systematic review of the evidence (Kramer and Kakuma, 2002) and concluded that exclusive breastfeeding for six months confers several benefits on the infant and the mother. Chief among these is the protective effect against infant gastrointestinal infections, which is observed not only in developing country settings but also in industrialized countries (Kramer et al., 2001).
Sumber : Guiding Principles For Complementary Feeding of The Breastfed
Child - WHO 2010


2. Rekomendasi UNICEF (United Nations of Children's Fund)
          Breast milk provides all the food and water that your baby needs during the first 6 months.
• Do not give anything else, not even water, during your baby’s first 6 months.
• Even during very hot weather, breast milk will satisfy your baby’s thirst.
• Giving your baby anything else will cause him/her to suckle less and will reduce the amount of breast milk that you produce.
• Water, other liquids and foods can make the baby sick.
Sumber : Key Message Booklet UNICEF September 2012

3. Rekomendasi AAP (American Academy of Pediatrics)
          How long should I breastfeed my baby?
          The AAP recommends that babies be exclusively breastfed for about the first 6 months of life. This means your baby needs no additional foods (except Vitamin D) or fluids unless medically indicated. Babies should continue to breastfeed for a year and for as long as is mutually desired by the mother and baby. Breastfeeding should be supported by your physician for as long as it is the right choice for you and your baby.

4. Rekomendasi Australian Government National Health & Medical Research Council
          In Australia, it is recommended that infants be exclusively breastfed until around 6 months of age when solid foods are introduced. It is further
recommended that breastfeeding be continued until 12 months of age
and beyond, for as long as the mother and child desire.

5. Rekomendasi IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia)
IKATAN DOKTER ANAK INDONESIA  REKOMENDASI No.: 002/Rek/PP IDAI/XI/2010 tentang Air Susu Ibu dan Menyusui
          ASI eksklusif didefinisikan sebagai pemberian ASI tanpa suplementasi makanan maupun minuman lain, baik berupa air putih, jus, ataupun susu selain ASI. Pemberian vitamin, mineral, dan obat-obatan diperbolehkan selama pemberian ASI eksklusif
          Pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama cukup untuk mencapai tumbuh kembang optimal.

6. Infant and young child feeding Model Chapter for textbooks for medical
students and allied health professionals – WHO

          Recommended infant and young child feeding practices WHO and UNICEF’s global recommendations for optimal infant feeding as set out in the Global Strategy are: Exclusive breastfeeding for 6 months (180 days)

Silahkan baca tulisan2 mba Fatimah yang lain soal Bahaya Pemberian MPASI Dini (& Menundanya) di Notes & Timeline Photos saya salah satunya :

Insya Allah bisa menjadi bahan pertimbangan untuk ibu muda seperti saya.. :) Pilihan semuanya ada di diri masing-masing ^_^ 

Semoga bermanfaat.. Salam sukses.. \(^_^)/
Unknown
Hepatitis B adalah suatu penyakit hati yang disebabkan oleh "Virus Hepatitis B" (VHB), suatu anggota famili Hepadnavirus[1] yang dapat menyebabkan peradangan hati akut atau menahun yang pada sebagian kecil kasus dapat berlanjut menjadi sirosi hati atau kanker hati.[2] Mula-mula dikenal sebagai "serum hepatitis" dan telah menjadi epidemi pada sebagian Asia dan Afrika.[3] Hepatitis B telah menjadi endemik di Tiongkok dan berbagai negara Asia.[4]
Penyebab Hepatitis ternyata tak semata-mata virus. Keracunan obat, dan paparan berbagai macam zat kimia seperti karbon tetraklorida, chlorpromazine, chloroform, arsen, fosfor, dan zat-zat lain yang digunakan sebagai obat dalam industri modern, bisa juga menyebabkan Hepatitis. Zat-zat kimia ini mungkin saja tertelan, terhirup atau diserap melalui kulit penderita. Menetralkan suatu racun yang beredar di dalam darah adalah pekerjaan hati. Jika banyak sekali zat kimia beracun yang masuk ke dalam tubuh, hati bisa saja rusak sehingga tidak dapat lagi menetralkan racun-racun lain.[5]

Diagnosis
Dibandingkan virus HIV, virus Hepatitis B (HBV) seratus kali lebih ganas (infectious), dan sepuluh kali lebih banyak (sering) menularkan. Kebanyakan gejala Hepatitis B tidak nyata.[6]
Hepatitis B kronis merupakan penyakit nekroinflamasi kronis hati yang disebabkan oleh infeksi virus Hepatitis B persisten. Hepatitis B kronis ditandai dengan HBsAg positif (> 6 bulan) di dalam serum, tingginya kadar HBV DNA dan berlangsungnya proses nekroinflamasi kronis hati. Carrier HBsAg inaktif diartikan sebagai infeksi HBV persisten hati tanpa nekroinflamasi. Sedangkan Hepatitis B kronis eksaserbasi adalah keadaan klinis yang ditandai dengan peningkatan intermiten ALT>10 kali batas atas nilai normal (BANN). Diagnosis infeksi Hepatitis B kronis didasarkan pada pemeriksaan serologi, petanda virologi, biokimiawi dan histologi. Secara serologi, pemeriksaan yang dianjurkan untuk diagnosis dan evaluasi infeksi Hepatitis B kronis adalah : HBsAg, HBeAg, anti HBe dan HBV DNA (4,5). Pemeriksaan virologi, dilakukan untuk mengukur jumlah HBV DNA serum sangat penting karena dapat menggambarkan tingkat replikasi virus. Pemeriksaan biokimiawi yang penting untuk menentukan keputusan terapi adalah kadar ALT. Peningkatan kadar ALT menggambarkan adanya aktivitas kroinflamasi. Oleh karena itu pemeriksaan ini dipertimbangkan sebagai prediksi gambaran histologi. Pasien dengan kadar ALT yang menunjukkan proses nekroinflamasi yang lebih berat dibandingkan pada ALT yang normal. Pasien dengan kadar ALT normal memiliki respon serologi yang kurang baik pada terapi antiviral. Oleh sebab itu pasien dengan kadar ALT normal dipertimbangkan untuk tidak diterapi, kecuali bila hasil pemeriksaan histologi menunjukkan proses nekroinflamasi aktif. Sedangkan tujuan pemeriksaan histologi adalah untuk menilai tingkat kerusakan hati, menyisihkan diagnosis penyakit hati lain, prognosis dan menentukan manajemen anti viral. [7]
Pada umumnya, gejala penyakit Hepatitis B ringan. Gejala tersebut dapat berupa selera makan hilang, rasa tidak enak di perut, mual sampai muntah, demam ringan, kadang-kadang disertai nyeri sendi dan bengkak pada perut kanan atas. Setelah satu minggu akan timbul gejala utama seperti bagian putih pada mata tampak kuning, kulit seluruh tubuh tampak kuning dan air seni berwarna seperti teh.[7]
Ada 3 kemungkinan tanggapan kekebalan yang diberikan oleh tubuh terhadap virus Hepatitis B pasca periode akut. Kemungkinan pertama, jika tanggapan kekebalan tubuh adekuat maka akan terjadi pembersihan virus, pasien sembuh. Kedua, jika tanggapan kekebalan tubuh lemah maka pasien tersebut akan menjadi carrier inaktif. Ketiga, jika tanggapan tubuh bersifat intermediate (antara dua hal di atas) maka penyakit terus berkembang menjadi hepatitis B kronis.[7]

Penularan
Hepatitis B merupakan bentuk Hepatitis yang lebih serius dibandingkan dengan jenis hepatitis lainnya.[2] Penderita Hepatitis B bisa terjadi pada setiap orang dari semua golongan umur.[8] Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan virus Hepatitis B ini menular. [9]
  • Secara vertikal, cara penularan vertikal terjadi dari Ibu yang mengidap virus Hepatitis B kepada bayi yang dilahirkan yaitu pada saat persalinan atau segera setelah persalinan.
  • Secara horisontal, dapat terjadi akibat penggunaan alat suntik yang tercemar, tindik telinga, tusuk jarum, transfusi darah, penggunaan pisau cukur dan sikat gigi secara bersama-sama (Hanya jika penderita memiliki penyakit mulut (sariawan, gusi berdarah,dll), lendir (berciuman) atau luka yang mengeluarkan darah serta hubungan seksual dengan penderita.
Sebagai antisipasi, biasanya terhadap darah-darah yang diterima dari pendonor akan di tes terlebih dulu apakah darah yang diterima reaktif terhadap Hepatitis, Sipilis dan HIV.
Sesungguhnya, tidak semua yang positif Hepatitis B perlu ditakuti. Dari hasil pemeriksaan darah, dapat terungkap apakah ada riwayat pernah kena dan sekarang sudah kebal, atau bahkan virusnya sudah tidak ada. Bagi pasangan yang hendak menikah, tidak ada salahnya untuk memeriksakan pasangannya untuk menenularan penyakit ini.

Perawatan
Hepatitis yang disebabkan oleh infeksi virus menyebabkan sel-sel hati mengalami kerusakan sehingga tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Pada umumnya, sel-sel hati dapat tumbuh kembali dengan sisa sedikit kerusakan, tetapi penyembuhannya memerlukan waktu berbulan-bulan dengan diet dan istirahat yang baik.[2]
Hepatitis B akut umumnya sembuh, hanya 10% menjadi Hepatitis B kronik (menahun) dan dapat berlanjut menjadi sirosis hati atau kanker hati.[8] Saat ini ada beberapa perawatan yang dapat dilakukan untuk Hepatitis B kronis yang dapat meningkatkan kesempatan bagi seorang penderita penyakit ini. Perawatannya tersedia dalam bentuk antiviral seperti lamivudine dan adefovir dan modulator sistem kebal seperti Interferon Alfa ( Uniferon).[10]
Selain itu, ada juga pengobatan tradisional yang dapat dilakukan. Tumbuhan obat atau herbal yang dapat digunakan untuk mencegah dan membantu pengobatan Hepatitis diantaranya mempunyai efek sebagai hepatoprotektor, yaitu melindungi hati dari pengaruh zat toksik yang dapat merusak sel hati, juga bersifat anti radang, kolagogum dan khloretik, yaitu meningkatkan produksi empedu oleh hati. Beberapa jenis tumbuhan obat yang dapat digunakan untuk pengobatan Hepatitis, antara lain yaitu temulawak (Curcuma xanthorrhiza), kunyit (Curcuma longa), sambiloto (Andrographis paniculata), meniran (Phyllanthus urinaria), daun serut/mirten, jamur kayu/lingzhi (Ganoderma lucidum), akar alang-alang (Imperata cyllindrica), rumput mutiara (Hedyotis corymbosa), pegagan (Centella asiatica), buah kacapiring (Gardenia augusta), buah mengkudu (Morinda citrifolia), jombang (Taraxacum officinale).selain itu juga ada pengobatan alternatif lain Hepatitis B Dari Wikipedia seperti hijamah/bekam yang bisa menyembuhkan segala penyakit hepatitis, asal dilakukan dengan benar dan juga dengan standar medis.[2]

Catatan
1.    ^ Zuckerman AJ (1996). Hepatitis Viruses. In: Baron's Medical Microbiology (Baron S et al, eds.) (ed. 4th ed.). Univ of Texas Medical Branch. ISBN 0-9631172-1-1.
2.    ^ a b c d "CBN Portal". Swipa. Diakses 10-03-2007.
3.    ^ Ryan KJ; Ray CG (editors) (2004). Sherris Medical Microbiology (ed. 4th ed.). McGraw Hill. hlm. pp. 544–51. ISBN 0-8385-8529-9.
4.    ^ Alberts B, Johnson A, Lewis J, Raff M, Roberts K, Walter P (2002). Molecular Biology of the Cell (ed. 4th). Garland. NCBI Bookshelf) ISBN 0-8153-3218-1.
5.    ^ "Republika Online". Swipa. Diakses 10-03-2007.
6.    ^ "Tabloid Nova Online". Swipa. Unknown parameter |acessdate= ignored (|accessdate= suggested) (help)
7.    ^ a b c "Website Resmi Kalbe Farma". Swipa. Unknown parameter |acessdate= ignored (|accessdate= suggested) (help)
8.    ^ a b "Ikatan Dokter Indonesia". Swipa. Diakses 10-03-2007.
9.    ^ "Dinas Kesehatan Jakarta". Swipa. Diakses 10-03-2007.
10. ^ Lau GKK et al (2005). "Peginterferon Alfa-2a, lamivudine, and the combination for HBeAg-positive chronic hepatitis B". N Engl J Med 352 (26): 2682–95. PMID 15987917.


PerpustakaanSarahLayaShafura. Diberdayakan oleh Blogger.