Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Unknown



إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا من يهد الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادى له وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأن محمدًا عبده  جامع الأحاديث - (7 / 244).

Segala puji bagi Allah, kita memujiNya, memohon pertolongan serta ampunanNya, kita  berlindung kepadaNya dari kejahatan diri kita dan kejelekan amalan-amalan kita. Barang siapa yang Allah beri hidayah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya hidayah. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba Allah dan utusan Allah.

{يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون } [آل عمران : 102]
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kedapa-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama islam.” (Qs. Ali Imran : 102)

{يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا (1)} [النساء : 1]
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb-kalian yang telah menciptakan kalian dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (Qs. An-Nisa : 1)

ورسوله { يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدًا . يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزًا عظيمًا } [الأحزاب : 70-71]
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalan dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telag mendapatkan kemenangan yang besar.
Amma ba’du
Ayyuhal Ikhwatu fillah….
Apa saja kiat kita agar ikhlas dan diridhai oleh Allah dalam menuntut ilmu?
            Sudah kita ketahui, ikhlas itu adalah amalan yang sangat sulit sekaligus amalan yang paling besar keutamaannya, sampai-sampai Imam Sufyan Atsauri rahimahullah berkata :

ما جهدت نفسي على شيئ مجاهدتها على الإخلاص
“Tidaklah aku berupaya untuk menundukkan diriku untuk bisa melapangkan sesuatu yang lebih berat dari pada upaya untuk mencapai ikhlas”
            Maka ikhlas ini adalah taufiq dari Allah yang sudah kita ketahui ikhlas jelas dicapai dengan pendalaman terhadap tauhid dan dengan berdo’a kepada Allah untuk dianugrahkan keikhlasan ini.
Secara umum Ibnul Qoyyim menjelaskan dalam kitabnya Al-fawaid bahwa “Ikhlas itu tidak akan berkumpul dengan dua sifat” yang mana apabila kita hilangkan dua sifat ini kita akan mudah untuk mencapainya.
Yang pertama :
حب الثناء و المدح (Cinta dipuji dan disanjung)
Yang kedua   :
الحرص بما في أيدى الناس
(Ambisi atau cinta untuk mendapatkan balasan yang ada di tangan manusia)
            Jadi, ikhlas tidak akan berkumpul dengan 2 sifat ini. Caranya untuk menghilangkan cinta pujian dan sanjungan adalah dengan kita meyakini bahwa tidak ada satu pun yang pujiannya manfaat dan celaannya mendatangkan kebaikan kecuali Allah. Jadi pujian manusia tidak ada pengaruhnya sama sekali, tidak bisa merubah diri kita sedikitpun.
Kemudian, cara untuk menghilangkan ambisi untuk mendapatkan balasan yang ada di tangan manusia adalah dengan cara, meyakini bahwa apapum yang ada di tangan manusia, maka yang ada pada Allah lebih sempurna, bahkan yang ada di tangan manusia tidak akan kita dapatkan kecuali dengan kehendak Allah. Ini secara kesimpulan dan secara ringkas.
            Adapun cara mendapatkannya jelas dengan cara Mujahadah (bersungguh-sungguh) karena nafsu manusia itu dikatakan di dalam Al-Qur’an.
{ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ} [يوسف : 53]
“Nafsu selalu memerintahkan kepada keburukan”
Makanya kata Nabi Muhammmad Shallallahu ‘alahi wasallam.
السلسلة الصحيحة - مختصرة - (2 / 89)
 549 - ( صحيح )
 [ ألا أخبركم بالمؤمن ؟ من أمنه الناس على أموالهم وأنفسهم والمسلم من سلم الناس من لسانه ويده والمجاهد من جاهد نفسه في طاعة الله والمهاجر من هجر الخطايا والذنوب ] . ( صحيح )
“Orang yang berjihad sebenarnya adalah orang yang berjihad untuk menundukkan hawa nafsunya agar mengikuti ketaatan kepada Allah”.
            Kalau kita sudah ketahui, bahwa ikhlas itu amalan yang paling sulit sekaligus amalan yang paling besar ketuamaannya, maka tidak ada cara lain, maka untuk bisa mencapainya harus dengan Mujahadah.
 Oleh karena itu, penduduk surge di sifati di dalam Al-Qur’an, sebagai orang-orang yang sewaktu di dunia dahulu terbiasa untuk mujhadah.

{ وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى (40) فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى (41)} [النازعات : 40 ، 41]
“Adapun orang-orang yang takut akan kedudukan Allah, dan selalu melarang memperturutkan hawa nafsunya dari keinginannya, maka sesungguhnya dialah orang yang akan diberikan surge sebagai tempat kembalinya (Qs. An-Nazi’aat. 40-41).
            Jadi orang yang tidak mau berjuang untuk menundukkan hawa nafsunya agar dapat ikhlas dan mencapai kebaikan dalam agama ini, maka dia tidak akan mencapai kebaikan selama-lamanya.
Karena tidak ada seorangpun manusia yang dilahirkan langsung dalam keadaan berilmu, atau langsung dalam keadaan bertaqwa, akan tetapi semua dengan proses. Oleh karena itu, semua sifat baik di dalam agama tidak akan didapatkan kecuali dengan proses latihan.
Dalam hadits yang shohih yang diriwayatkan oleh Al Imam Bukhari dalam kitabnya Adabul Mufrad. Di mana Rasulullah bersabda :

الجامع الصغير وزيادته - (1 / 410)
إنما العلم بالتعلم و إنما الحلم بالتحلم و من يتحر الخير يعطه و من يتق الشر يوقه
“Sesungguhnya ilmu itu hanyalah di dapat dengan belajar, dan sifat lemah lembut hanyalah di dapat dengan melatih diri agar memiliki sifat tersebut, dan barang siapa yang berusaha untuk melatih dirinya untuk melakukan kebiakan maka dia akan dapatkan, dan barang siapa yang berusaha menghindari keburukan maka dia dihindarkan dari keburukan tersebut”.
Jadi orang itu harus melatih dirinya agar mendapatkan ilmu ketika ia mendapatkan ilmu lalu ia amalkan. Karena jiwa ini susah, jiwa kita itu terbiasa untuk mengharapkan balasan yang Nampak sementara agama balasannya tidak Nampak, Ghaib semua. Maka harus dilatih diri kita agar terbiasa mengamalkan amalan-amalan yang balasannya tidak nampak.
Maka semua yang namanya kebaikan itu kata Nabi Shallallahu ‘alahi wasallam

الجامع الصغير وزيادته - (1 / 1076)
 10758 - ما يكون عندي من خير فلن أدخره عنكم و إنه من يستعف يعفه الله و من يستغن يغنه الله و من يتصبر يصبره الله و ما أعطي أحد عطاء خيرا و أوسع من الصبر
“Barang siapa yang berusaha bersabar barulah Allah akan memberikan kesabaran”
Jadi, kita belajar setelah itu kita berusaha untuk mengamalkannya seperti halnya ikhlas. Memang sulit berusaha untuk bertauhid, kemudia berusaha agar tidak mengharapkan balasan yang Nampak, tidak mengharapkan pujian manusia. Dan ini semua perlu Mujahadah dan latihan.
Oleh karena itu, latihan terbaik agar mengamalkan ikhlas adalah selalu melatih diri mengamalkan amalan ketika amalan tersebut tidak sesuai dengan yang kita rasakan juga tidak sesuai dengan hawa nafsu kita.

Misalnya : “Ada seseorang yang secara pribadi menyakiti kita, maka kita berusaha berbuat baik kepadanya.” Ini adalah cara melatih diri kita agar tetap ikhlas.
Orang yang selalu menyakiti kita secara pribadi, kita punya dendam kepada seseorang karena dia menyakiti kita, maka kita tolong dia atau kita berbuat baik sama dia. Karena biasanya manusia, kalau orang yang berbuat baik sama dia, dia pasti mudah akan ditolong lagi bukan? Akan tetapi, giliran ia pernah melakukan kesalahan dalam agama atau pribadi, maka biasanya kita susah karena nafsu kita berperan ketika itu.

Ini menunjukan bahwa kita itu berbuat baik sama orang lain karena kemauan diri kita sendiri kadang-kadang. Maka berkata para ulama salaf
حقيقة حب في الله أن لايزيد بالبر ولا ينقص بالجفاء
“Cinta yang sejati karena Allah adalah cinta tersebut tidak bertambah karena kebaikan dunia semata-mata dan tidak berkurang karena sikap buruk dia dalam masalah dunia semata-mata.”
Sama dengan seperti halnya orang yang bersikap keras kepada kita (Mentahdzir) kita, maka kita jangan membalas dengan mentahdzir kembali. Itu namanya nafsu. Tapi apa ? kita ambil yang baik dan yang buruk kita tinggalkan.

Jadi, cara melatih ikhlas adalah harus dengan adanya Mujahadah dalam melatih diri. Melatih diri kita melakukan amalan-amalan yang tidak sesuai dengan hawa nafsu kita. Karena secara umum hukum-hukum yang Allah turunkan itu, berkata Imam Ibnul Qoyyim
أحكام رب سبحانه كثير ما يأتي على أدراج الناس
“Hukum-hukum yang Allah turunkan itu kebanyakan tidak sesuai dengan ambisi keinginan manusia”
Lalu jika ada hadits-hadits yang mengatakan
الجامع الصغير وزيادته - (1 / 546)
حفت الجنة بالمكاره و حفت النار بالشهوات
“Surga itu dilingkupi dengan hal-hal yang susah”
Bagaimana mengsinkronkan hadits ini dengan bahwasannya iman itu manis, tapi kenapa surga itu dilingkupi dengan hal-hal yang susah?
Jawabannya.
Untuk awal-awal seseorang menempuh jalan Allah itu, karena hawa nafusnya belum ditundukkan, maka dia perlu berjuang di awalnya. Setelah Allah mengetahui kesungguhannya, barulah Allah akan memberikan hidayah kepada seseorang tersebut sesuai dengan kesungguhan dia, maka orang yang paling sempurna hidayahnya adalah orang yang paling besar perjuangannya. Itulah makna firman Allah.

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan kami, merka itulah orang yang diberikan jalan-jalan kami” (Qs. Al Ankabut : 69).
Ibnul Qoyyim berkata, sewaktu menafsirkan ayat ini.

علق الله سبحانه هداية بالجهاد فأكمل الناس هداية أعظمهم جهادا
“Dalam ayat ini Allah menggandengkan antara hidayah darinya dengan kesungguhan manusia, hidayah dari Allah dengan mujahadah manusia, maka orang yang paling sempurna mendapatkan hidayah adalah orang yang paling besar pula perjuangannya.”
Oleh karena itu, seseorang tidak akan mendapatkan hidayah kebaikan, mustahil bahkan untuk mendapatkan kebaikan delam agama tanpa adanya usaha untuk melatih dirinya.
و صلى الله على نبينا محمد و على أله و على أصحابه و التــابعين و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين.
Ditulis Oleh Abu Faris Abdirrahman
Intisari dari Kajian Ustadz. Abdullah Taslim. MA
Unknown
بسم الله الرحمن الرحيم
            Setelah melewati proses akad nikah, Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmussholihat…. Tiada ucapan terindah selain bersyukur kepada Allah yang telah mempersatukan hati kami dibawah naungan cinta yang halal, dan saya berterima kasih sekali kepada seluruh kawan-kawan saya yang sudah berkenan hadir di acara kami. Jazakumullahu Khairan…
            Alhamdulillah… ada sedikit tulisan yang saya coba menggali Hikmah di balik berkahnya Nikah Muda. karena tidak sedikit saya mendapatkan pertanyaan “Bagaimana rasanya setelah menikah”? baik dari senior yang sudah lama menikah, ataupun juga dari kawan-kawan yang masih lajang. inilah jawaban yang saya bisa buat dalam bentuk makalah. mudah-mudahan bermanfaat, tidak bermaksud menggurui tapi ini hanyalah sebatas nasihat sesama seorang muslim. Barokallahu Fikum….        
  
            Menikah dan berumah tangga merupakan fitrah setiap manusia yang diciptakan oleh Allah  dengan kecenderungan menyukai lawan jenis dan hidup berpasangan. Allah  berfirman:
{يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا}
“Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu” (QS an-Nisaa’: 1).
Dalam ayat lain Allah  berfirman:
{وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَنِينَ وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ أَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَةِ اللَّهِ هُمْ يَكْفُرُونَ}
“Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah” (QS an-Nahl: 72).
            Dengan berumah tangga, seorang manusia bisa mencurahkan cinta dan kasih sayang kepada anggota keluarganya, yang dengan itu semua dia bisa merasakan ketentraman dan kedamaian dalam hidupnya.
Oleh karena itulah, agama Islam yang diturunkan oleh Allah  untuk kebaikan hidup manusia, sangat menganjurkan dan menekankan pentingnya berumah tangga, serta mengatur hukum dan adab yang berhubungan dengannya untuk tujuan mewujudkan kebahagiaan dan ketenangan hidup bagi manusia. tidak lain menikah adalah jalan mencari keberkahan di dalam menjalani kehidupan karena dengan mentaati segala perintah Allah dibalik itu semua ada keberkahan. 
Hikmah dan tujuan pernikahan dalam Islam
Allah  berfirman:
{وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ}
“Dan di antara tanda-tanda (kekuasaan)-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” (QS ar-Ruum: 21).
            Ayat yang mulia ini menjelaskan tujuan dan hikmah agung disyariatkannya pernikahan dalam Islam, yaitu untuk menjadikan seorang manusia merasakan ketenangan dan kedamaian ketika bersama istrinya, dengan keduanya saling mencintai dan berkasih sayang, bahkan hampir tidak dijumpai dua orang yang saling mencintai dan berkasih sayang seperti suami dan istri[1]. Oleh karena itulah, Allah menjadikan istri seorang manusia dari jenisnya sendiri, supaya dia merasa tentram dan tidak takut kepadanya. Kemudian dari hubungan inilah lahir keturunan yang merupakan tujuan dari pernikahan[2]
            Ayat ini juga menjadi bukti bahwa Allah  mensyariatkan agama Islam untuk tujuan memberikan kemaslahatan dan kebaikan hidup bagi manusia, karena Dia  Maha sempurna kasih sayang dan anugerah kebaikan-Nya bagi hamba-hamba-Nya, sehingga Dia mensyariatkan pernikahan dalam Islam untuk tujuan mulia yang tersebut di atas. Inilah makna firman-Nya dalam ayat di atas: “Dan di antara tanda-tanda (kekuasaan)-Nya…”, yaitu yang menunjukkan sempurnanya kasih sayang dan perhatian-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, serta sempurnanya hikmah dan ilmu-Nya yang maha luas[3].
Dalam ayat lain, Allah  lebih menegaskan hikmah yang agung ini, Allah  berfirman:
{هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا فَلَمَّا تَغَشَّاهَا}
“Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa tentram kepadanya” (QS al-A’raaf: 189).
Imam asy-Syaukani berkata: “Sebab (hikmah) penciptaan istri dari jenis manusia sendiri adalah suami merasa tentram, tenang dan bahagia bersamanya”[4].
            Oleh karena itulah, Dalam banyak hadits yang shahih, Rasulullah  sangat menganjurkan dan memotivasi umatnya untuk menikah dan berumah tangga, karena di samping untuk tujuan agung di atas, pernikahan islami juga merupakan sebab kuat untuk menjaga kesucian dan kehormatan diri, dengan menyalurkan hasrat dan kecenderungan syahwat manusia secara benar dan pada tempat yang halal.
Misalnya sabda Rasulullah : “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kamu yang mampu untuk memberi nafkah lahir dan batin maka hendaknya dia menikah, karena sesungguhnya hal itu lebih menjaga pandangan dan memelihara kemaluan (kesucian), dan barangsiapa yang tidak mampu maka hendaknya dia berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu akan menjadi pengekang syahwat baginya”[5].
Solusi dan Penutup:
Inilah hakikat ketenangan dan kedamaian dalam jiwa yang dirasakan oleh orang-orang yang beriman, ketika mereka mendapati anggota keluarga mereka selalu taat kepada Allah. Oleh karena itulah Allah  memuji hamba-hamba-Nya yang bertakwa ketika mereka mengucapkan permohonan ini kepada-Nya, dalam firman-Nya:
{وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً}
“Dan (mereka adalah) orang-orang yang berdoa: “Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri dan keturunan kami sebagai penyejuk (pandangan) mata (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa” (QS al-Furqan:74).
Imam Hasan al-Bashri ketika ditanya tentang makna ayat di atas, beliau berkata: “Allah akan memperlihatkan kepada hambanya yang beriman pada diri istri, saudara dan orang-orang yang dicintainya ketaatan (mereka) kepada Allah, demi Allah tidak ada sesuatupun yang lebih menyejukkan pandangan mata seorang muslim dari pada ketika dia melihat anak, cucu, saudara dan orang-orang yang dicintainya taat kepada Allah” [6].
Itulah hakikat pernikahan dengan segala hikmahnya menurut tinjauan syari’at islam, karenanya sejatinya pacaran tidak dikenal di dalam agama islam, yang pada hakikatnya pacaran adalah kenistaan bukan sebuah keniscayaan, ada sebuah judul buku menarik yang membuat saya tercengang seketika itu saya melihat judul buku “MENIKAHLAH JIKA TIDAK MAKA ENGKAU AKAN TERFITNAH” buku ini menyimpan pesan untuk kita anak-anak muda akan bahaya sebuah fitnah, yaitu fitnah wanita. namun fitnah tersebut bisa menjadi berkah apabila kita sambut melalui jalan yang syar’I yaitu pernikahan bukan pacaran justru pada hakikatnya mereka yang asyik berpacaran adalah orang-orang yang tenggelam dalam lubang fitnah yakni, perangkap syaitan. siapakah yang bisa menjamin diri kita akan selamat dari petaka sebuah fitnah ? untuk itu kita yang hidup di era globalisai yang penuh tantangan fitnah dengan berbagai sumber fitnah yang sudah bisa kita rasakan bersegeralah sambut perintah Allah dengan cara yang baik.
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua dan menjadi sebab untuk meraih kebahagiaan hidup sejati di dunia dan akhirat.
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
 ----------------------------------------------------------
[1] Sebagaimana yang disebutkan dalam HR Ibnu Majah (no. 1847) dan al-Hakim (2/174), dinyatakan shahih oleh imam al-Hakim, disepakati oleh imam adz-Dzahabi dan dinyatakan shahih oleh syaikh al-Albani dalam “ash-Shahiihah” (no. 624) karena diriwayatkan dari beberapa jalur periwayatan yang saling menguatkan.
[2] Lihat kitab “Fathul Qadiir” (3/255) dan “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 639).
[3] Lihat kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 639).
[4] Kitab “Fathul Qadiir” (2/399).
[5] HSR al-Bukhari (no. 4778) dan Muslim (no. 1400).
[6] Dinukil oleh Ibnu Katsir dalam tafsir beliau (3/439).
Unknown
Al-Imam As-Syafi'i - rahimahullah berkata :

دَعِ الأَيَّامَ تَفْعَل مَا تَشَاءُ ** وطِبْ نَفْساً إذا حكمَ القضاءُ
Biarkanlah hari-hari melakukan apa yang ia inginkan…. Tenangkanlah dirimu jika takdir telah memutuskan

وَلا تَجْزَعْ لِحَادِثة الليالي ** فَمَا لحوادثِ الدنيا بقاءُ
Janganlah engkau gelisah dan berkeluh kesah dengan kejadian/musibah malam hari…
Sesungguhnya musibah dunia tidak akan k

ekal

وكنْ رجلاً على الأهوالِ جَلَداً ** وَشِيْمَتُكَ السَّمَاحَةُ وَالْوَفَاءُ
Jadilah engkau seorang lelaki tegar dalam kesulitan…Perangaimu adalah memaafkan dan menepati janji

وإنْ كثرتْ عُيُوبُكَ في الْبَرَايَا ** وسَرَّكَ أَنْ يَكُونَ لَها غِطَاءُ
Jika banyak aibmu di hadapan manusia….dan kau senang jika ada penutup bagi aib-aibmu

تَسَتَّرْ بِالسَّخَاء فَكُلُّ عَيْب ** يغطيه كما قيلَ السَّخاءُ
Maka hendaknya engkau menutupi aibmu dengan kedermawanan, karena seluruh aib tertutupi –sebagaimana dikatakan- yaitu dengan kedermawanan

ولا ترجُ السماحةََ من بخيلٍ ** فَما فِي النَّارِ لِلظْمآنِ مَاءُ
Janganlah engkau mengharapkan kebaikan dari seorang yang pelit… orang yang kehausan tidak akan mendapatkan air di api

وَرِزْقُكَ لَيْسَ يُنْقِصُهُ التَأَنِّي ** وليسَ يزيدُ في الرزقِ العناءُ
Rejekimu tidaklah akan terkurangi dengan sikap tenang (dalam bekerja)…dan tidak akan menambah rejekimu dengan (ngotot) kepayahan

وَلا حُزْنٌ يَدُومُ وَلا سُرورٌ ** ولا بؤسٌ عليكَ ولا رخاءُ
Tidak ada kesedihan yang berkesinambungan demikian pula dengan kesenangan yang bersambung-sambung….
demikian juga tidak ada kesengsaraan dan kemakmuran yang terus menerus

وَمَنْ نَزَلَتْ بِسَاحَتِهِ الْمَنَايَا ** فلا أرضٌ تقيهِ ولا سماءُ
Barang siapa yang didatangi oleh ajalnya… maka tidak ada bumi dan langit yang akan menaunginya

وأرضُ الله واسعةً ولكن ** إذا نزلَ القضا ضاقَ الفضاءُ
Sesungguhnya bumi Allah luas…akan tetapi jika telah datang taqdir kematian maka sempitlah terasa padang yang luas

--- Ustadz Firanda Abu Abdul Muhsin MA ----
Unknown
Unknown


النفس تبكي على الدنيا وقد علمت…أن السلامة فيها ترك ما فيها
(Sungguh aneh) jika jiwa menangis karena perkara dunia (yang terluput) padahal jiwa tersebut mengetahui bahwa keselamatan adalah dengan meninggalkan dunia
لا دار للمرء بعد الموت يسكنها…إلا التي كان قبل الموت يبنيها
Tidak ada rumah bagi seseorang untuk ditempati setelah kematian, kecuali rumah yang ia bangun sebelum matinya
فإن بناها بخير طاب مسكنه…وإن بناها بشر خاب بانيها
Jika ia membangun rumahnya (tatkala masih hidup) dengan amalan kebaikan maka rumah yang akan ditempatinya setelah matipun akan baik pula
أموالنا لذوي الميراث نجمعها…ودورنا لخراب الدهر نبنيها
Harta kita yang kita kumpulkan adalah milik ahli waris kita, dan rumah-rumah (batu) yang kita bangun akan rusak dimakan waktu
كم من مدائن في الآفاق قد بنيت…أمست خرابا وأفنى الموت أهليها
Betapa banyak kota (megah) dipenjuru dunia telah dibangun, namun akhirnya rusak dan runtuh, dan kematian telah menyirnakan para penghuninya
أين الملوك التي كانت مسلطنة…حتى سقاها بكأس الموت ساقيها
Dimanakah para raja dan pimpinan yang dahulu berkuasa? Agar mereka bisa meneguk cangkir kematian
لا تركنن إلى الدنيا فالموت…لا شك يفنينا ويفنيها
Janganlah engkau condong kepada dunia, karena tidak diragukan lagi bahwa kematian pasti akan membuat dunia sirna dan membuat kitapun fana
واعمل لدار غدا رضوان خازنها…والجار أحمد والرحمن بانيها
Hendaknya engkau beramal untuk rumah masa depan yang isinya adalah keridhaan Allah, dan tetanggamu adalah Nabi Muhammad serta yang membangunnya adalah Ar-Rohman (Allah yang maha penyayang)
قصورها ذهب والمسك طينتها…والزعفران حشيش نابت فيها
Bangunannya terbuat dari emas, dan tanahnya menghembuskan harumnya misk serta za’faron adalah rerumputan yang tumbuh di tanah tersebut
أنهارها لبن مصفى ومن عسل…والخمر يجري رحيقا في مجاريها
Sungai-sungainya adalah air susu yang murni jernih, madu dan khomr, yang mengalir dengan bau yang semerbak
والطير تشدو على الأغصان عاكفة…تسبح الله جهرا فى مغانيها
Burung-burung berkicau di atas ranting dan dahan di atas pohon-pohon yang ada di surga
Mereka bertasbih memuji Allah dalam kicauan mereka
فمن يشتري الدار في الفردوس يعمرها…بركعة في ظلام الليل يحييها
Siapa yang hendak membangun surga firdaus maka hendaknya ia memenuhinya dengan sholat di dalam kegelapan malam..
PerpustakaanSarahLayaShafura. Diberdayakan oleh Blogger.